IBX5A2F9222D4AE8

Rabu, 24 Januari 2018

Taukah Kalimat "Belum Makan Namanya Kalau Belum Makan Nasi" Adalah Stimulus Otak Terhadap Stress

Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan "belum makan namanya kalau belum makan nasi" atau "belum kenyang kalau belum makan nasi" ? Sebagian besar hal tersebut dikatakan orang-orang di Indonesia. Sebagian mengatakan bahwa makanan pokok orang Indonesia adalah nasi, maka dari itu jika belum makan nasi belum dapat dikatakan bahwa anda sudah makan. Namun, bagi sebagian orang mendengarkan hal itu merupakan sesuatu yang aneh. Menurut ilmuwan dari Institut Nasional Ilmu Fisiologis Jepang, keinginan untuk terus melahap karbohidrat sebenarnya datang dari dalam otak.


Mereka berkata bahwa hal itu karena neuron atau sel saraf yang dapat merespons stres sosial sedang aktif dan membuat nafsu makan bertambah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu mengalihkan keinginan mengonsumsi karbohidrat, makanan manis, atau makanan cepat saji yang tidak sehat. Sebelumnya, mereka melakukan uji coba pada tikus. Mereka membuktikan bahwa tikus dengan neuron yang aktif dapat mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat dengan kecepatan tiga kali tikus dalam kondisi normal. Selain itu, tikus juga mengurangi separuh asupan makanan berlemak tinggi.

"Ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan bagaimana otak memainkan peran dalam preferensi untuk karbohidrat atau lemak," ujar Yasuhiko Minokoshi, ilmuwan yang memimpin penelitian, dikutip dari AFP. Minokoshi berkata bahwa manusia pada umumnya memang memilih makanan berdasarkan selera dan keadaan gizi tubuh. Namun, mekanisme pasti yang terlibat di dalamnya adalah sebuah misteri. "Banyak orang yang setelah makan banyak permen saat stres cenderung menyalahkan diri karena tidak dapat menahannya. Tapi, seandainya mereka tahu kalau itu karena neuron, mungkin tidak akan sulit untuk mengendalikan diri sendiri," sambungnya.

Namun, Minokoshi berkata bahwa masih sulit menerapkan temuannya untuk memperbaiki pola makan manusia. Pasalnya, sekadar menekan neuron yang memiliki banyak peran penting bisa memicu efek samping. "Jika kita bisa menemukan molekul tertentu dalam neuron dan menekan sebagian aktivitasnya, kita bisa mengurangi makan berlebihan dari makanan yang tinggi karbohidrat," jelasnya. Dalam waktu dekat, temuan ini akan segera dipublikasikan dalam jurnal online AS Cell Reports.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda memiliki komentar seputar topik pembahasan ini?. Silakan berbagi dengan pembaca lainnya.

Tentang Berjibaku

Selamat datang di Berjibaku, blog yang menyediakan ragam informasi menarik dari dalam maupun luar negeri. Berjibaku menyediakan berbagai artikel dengan tema lifestyle, unik, karir, hubungan asmara, otomotif, motogp, teknologi, wisata, hiburan dan umum.

Semoga waktu yang Anda luangkan untuk membaca artikel-artikel di blog ini menjadi waktu-waktu yang menyenangkan dan menghibur.

Salam,
Admin

Ikuti via email

Kontak Admin

Nama

Email *

Pesan *